Jumat, 30 Agustus 2013

CERITA GEMPA BUMI DI YOGYAKARTA

Sabtu, 27 Mei 2006, pukul 05.53 wib,  Daerah Istimewa Yogyakarta diguncang oleh gempa berkekuatan 5,9 SR versi BMG (sekarang BMKG) dengan pusat gempa 38 km selatan Yogyakarta di kedalaman 33 km di bawah muka air laut.
Akibat gempa yang mengejutkan ini, dengan seketika sebanyak 27.000 rumah ambruk berantakan, ribuan jiwa melayang, korban luka-luka tak berbilang. Kerusakan kota Jogja pun mencapai 10 %. Gempa dahsyat ini tak hanya meruntuhkan materi, namun jiwa manusia turut tergoncang hebat.

Huru Hara Di Yogyakarta
Situasi tak terkendali pasca gempa dahsyat terjadi hampir satu jam akibat mencuat isu tsunami. Jalan-jalan di Bantul sejak pagi dipadati kendaraan dan massa yang panik berlarian penuh ketegangan. Mereka bergerak sesuai naluri tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya untuk mencari tempat yang dirasa aman, seperti daerah perbukitan di Gunung Sempu. Kendaraan mereka penuh dengan muatan orang ada yang satu sepeda motor dinaiki tiga orang bahkan ada yang ditambah dengan bayi-bayi mereka. Bahkan beberapa mereka ada yang hanya berlarian terus tanpa alas kaki. Sebagian dari mereka berhamburan menuju utara (Sleman) menyusuri Ring Road sehingga menjadi lautan manusia berlarian dalam satu arah.
Kepanikan dan hiruk pikuk ternyata tak hanya menggoncang Bantul, massa di Sleman justru berlarian menuju selatan karena mengira gempa dahsyat itu dari Merapi. Secara kebetulan Merapi saat itu sedang mengeluarkan awan panas dalam jumlah yang besar. Dari kecamatan Mlati kabupaten Sleman, warga keluar rumah dan berlarian menuju selatan menjauhi Merapi. Semua kepanikan itu terjadi karena saluran ponsel dan telepon serta listrik langsung mati, sehingga sulit mengakses informasi.
Puncak kepanikan massa di Sleman, terutama yang berada di jalan-jalan utama, terjadi setelah massa dari Bantul dan Kota berhamburan menuju Kaliurang, Muntilan, dan Magelang. Lampu-lampu kendaraan mereka dinyalakan sepanjang perjalanan, serta mengatakan, “Cepat lari! Ada tsunami”, “Air sudah sampai Kraton”, “Godean sudah habis”, dan sebagainya. Maka spontan banyak warga Sleman yang termakan isu itu, mereka ikut berlarian menuju tempat yang dirasa aman. Sehingga Sleman pun menjadi geger. Hampir setiap jalan keluar di wilayah Sleman menjadi sangat padat arus lalu lintas massa yang mengungsi.
Di Jl. Godean, ribuan warga yang berasal dari kecamatan Moyudan, Minggir, Godean, Gamping dan sebagian warga Kota, berlarian menuju bukit Menoreh. Arus lalu lintas yang hendak menuju ke Jogja di jalur itu tak diberi kesempatan, malah diharuskan membalik ke arah bukit Menoreh. Di Jl. Magelang, arus lalu lintas yang menuju ke Jogja dihadang oleh arus deras yang berlarian dari Jogja, sambil mengatakan gelombang tsunami sudah menuju Jogja. Kemudian di Jl. Solo dan Jl. Kaliurang juga tak berbeda kejadiannya. Di jalan Magelang, hampir tiga jam mulai jam 08.00, tak ada satu pun kendaraan yang menuju Jogja, semua membelok menuju Magelang. Tak mau ketinggalan kepanikan terjadi di banyak SPBU (POM Bensin) yang berubah menjadi antrian panjang kendaraan yang ingin segera diisi bahan bakarnya.

Kisah yang memilukan adalah para pasien yang sedang dirawat inap di beberapa Rumah Sakit ikut keluar dengan tertatih-tatih dengan infus masih melekat di tubuhnya, didampingi keluarganya. Malah ada pasien yang masih mengenakan pakaian operasi (bedah) yang berbentuk jubah putih itu, berusuha menaiki kendaraan bersama ibunya untuk ikut keluar. Di Bantul, ada seorang bapak yang mengalami patah tulang di kedua kakinya duduk bersandar pada tiang di pinggir jalan dan hanya bisa pasrah di tengah hiruk pikuk massa. Kedua matanya dipejamkan, tubuhnya terkulai lemas, dan ia hanya sendiri tanpa ada yang menemani, kecuali petugas kamerawan sebuah stasiun televisi swasta di Yogyakarta.
Di Klaten muncul isu bahwa tsunami sudah sampai Prambanan, maka ribuan orang pun beramai-ramai mengungsi dengan mengendarai truk, mobil, sepada motor, atau hanya lari tak tahu arah. Mereka menuju kota, lereng Merapi, sampai Delanggu bahkan Sukoharjo.
Itulah sebuah waktu dimana uang tidak berlaku, wajah cakep tak dihirau, hari yang mana hati menjadi bergetar (miris) oleh kekuatan dahsyat! Masya Allah. Hari itu logika seolah tidak berlaku, yang ada hanya histeria massa. Hari itu menjadi hari kepanikan dan telah merasuki jiwa manusia. Sebenarnya jika dinalar, ketinggian daratan di Kota Jogja adalah sekitar 150 meter di atas permukaan air laut dan berjarak lurus kurang lebih 30an kilometer, serta ada bukit memanjang di wilayah Bantul. Sehingga seandainya ada tsunami maka tak akan mencapai Kota Jogja apalagi sampai Sleman, bahkan untuk menjangkau Kota Bantul sekali pun. Sebagai pembanding tatkala gelombang tsunami setinggi belasan meter dan masuk ke daratan hingga 10 kilometer di Aceh Barat, hal ini terjadi karena kondisi topografi pantai di daerah tersebut landai, dan semakin jauh dari pantai maka akan semakin dangkal. Dengan demikian untuk membawa gelombang air laut selatan mencapai Kota Bantul yang jarak lurusnya dengan pantai selatan kurang lebih 20an kilometer, diperlukan kekuatan yang jauh lebih besar dari pada gempa di NAD dan Sumut pada tanggal 26 Desember 2004 yang lalu.
Kepanikan akibat gempa ini telah melanda seluruh warga di Yogyakarta, para guru dan murid, pengusaha dan buruh, pedagang, petani, pekerja kantor, dan sebagainya tanpa kecuali. Goncangan dahsyat menjelang pukul enam pagi itu membuat  banyak orang berpisah dengan sanak keluarganya. Banyak orang yang masih tidur, sedang mandi, buang air atau sedang apa saja terperanjat dan panik sehingga tanpa sadar telah melakukan langkah penyelamatan yang unik  Ada yang berlarian tanpa busana, ada yang berlari bukannya menuju pintu tapi malah menabrak tembok, ada yang ingin segera (maaf)  mengenakan celana namun secara reflek ia melindungi kepalanya dari reruntuhan, sehingga tanpa sadar celana dipakaikan di kepala.
Kisah lain, di wilayah kota Jogja ada seorang ibu tergoncang hatinya saat gempa yang sekonyong-konyong meruntuhkan rumah-rumah di sekitarnya, ia sempat menyaksikan bagaimana rumah-rumah itu bergoyang-goyang lalu runtuh. Lebih dari itu ia sempat melihat putranya tertimpa kayu di kepalanya diikuti kucuran darah. Putra kesayangannya saat itu masih bisa berteriak, “Ibuuu!” kemudian terhenti mendadak. “Nak, ucapkan “laa ilaaha illallah” nak!”, teriaknya. Dan ternyata putranya telah meninggal. Ia sangat terpukul dan tercengang luar biasa dengan peristiwa dahsyat itu seraya berucap, “Ya Allah apakah ini kiamat?, apakah saya ini masih hidup atau sudah  mati?”. Demikian itulah bahwa dalam kenyataannya akan banyak kejadian yang tak tertulis atau tidak terberitakan daripada yang pernah ditulis atau diberitakan.
Kenyataan menjadi semakin ngeri dengan adanya kabar sebagaimana telah diberitakan oleh beberapa media, di salah satu wilayah di Prambanan yang terdapat patahan sepanjang hampir 500 meter dengan lebar tanah menganga yang bervariasi antara  1 cm hingga 15 meter (bukan centi meter!), kemudian menelan beberapa rumah warga. Di Bantul -saat gempa pertama terjadi- tanah, sawah dan jalan beregerak bergelombang. Ada juga air sumur, air sawah muncrat (memancar) hingga ada yang setinggi 4 meter. Saat gempa terjadi, air sumur dan air sawah ada yang hilang meresap namun setelah itu memancar ke atas beserta lumpur dan pasir. Tembok memanjang di tepi-tepi jalan bergoyang seperti ular berjalan di air, kemudian roboh. Serta kisah-kisah bagaimana rumah-rumah dan bangunan-bangunan itu runtuh, dan sebagainya. Kisah-kisah tersebut begitu kerap terucap oleh banyak orang. Sesaat pasca gempa dahsyat pertama terjadi, warga Bantul sudah mulai resah akan datangnya tsunami. Tatkala isu tsunami itu mencuat maka rumah-rumah, pasar dan pertokoan menjadi banyak yang kosong ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya. Gempa dahsyat itu hampir-hampir melumpuhkan sendi-sendi kehidupan di Yogyakarta.
Ada yang menarik, beberapa saat pasca gempa dari seluruh stasiun radio di Yogyakarta hanya satu stasiun swasta yang masih bisa siaran, dan berubah menjadi liputan musibah langsung. Sebelum stasiun radio yang lain bisa mengudara, radio swasta ini pada setiap beritanya senantiasa ditunggu dan disimak oleh banyak orang. Kemudian setelah itu setiap orang menjadi sangat respek dengan berita-berita, dan mereka berubah menjadi sangat sensitif terhadap isu-isu. Seperti isu akan datangnya gempa yang lebih besar lagi, atau apa pun yang membawa bencana, membuat raut wajah banyak orang berubah pucat serta mendebarkan.
Di tengah gempa-gempa susulan yang menggelisahkan, di tengah suasana mencekam, banyak orang mencari teman perlindungan. Maka orang-orang yang tak pernah tegur sapa, orang-orang yang tak pernah mereka kenal kecuali saat itu tiba-tiba menjadi sangat akrab seolah dua bersaudara dan saling mencurahkan isi hatinya, bahkan kadangkala diselingi tangisan serta saling menasihati kesabaran.


posting by: INA INDRIANI

BANJIR YANG PERNAH TERJADI DI CHINA

1. Banjir di sungai kuning china



Pada tahun 1931 terjadi banjir di sungai kuning china, banjir ini termasuk bencana alam terbesar yang pernah ada di karenakan banjir ini menelan 1.000.000 sampai 4.000.000 jiwa. Orang- orang yang meninggal akibat banjir ini disebabkan karena ada yang tenggelam, ada yang terkena penyakit, kelaparan, dan kekeringan. Sungai ini sering disebut “china’s sorrow” karena jutaan orang yang telah terbunuh oleh banjir ini.


2. Banjir di sungai kuning china


Banjir di sungai kuning china yang terjadi pada tahun 1887 menjadi banjir terbesar yang pernah ada karena telah menelan 900.000 sampai 2.000.000 jiwa. Banjir ini disebabkan karena dasar laut naik bersamaan dengan hujan yang deras. karena disekitar kawasan sungai ini merupakan dataran rendah, sehingga banjir dengan cepat menyebar ke seluruh china utara yang luasnya mencapai 50.000 mil persegi, yang meliputi swamping pertanian pemukiman dan pusat komersial. Setelah banjir, dua juta orang hilang tempat tinggal. Hasil pandemi dan kurangnya diklaim sebagai dasar penting kehidupan seperti banyak yang hilang secara langsung oleh banjir itu sendiri.


3. Banjir di sungai kuning china


Masih di Huang He, pada 1938, banjir kembali melanda dan memakan sekitar 900 ribu korban jiwa. Banjir kali ini disebabkan karena pasukan China Nasionalis di bawah pimpinan Chiang Kai-Shek yang mematahkan tanggul sebagai upaya untuk menyerang Jepang. Strategi ini memang cukup berhasil berhasil, namun sayangnya, harus mengorbankan banyak jiwa.


4. Banjir di sungai ru china


Pada tahun 1642 terjadi banjir di sungai ru china yang menewaskan kurang lebih 230.000 jiwa. Banjir ini disebabkan oleh runtuhnya Bendungan Banquia, bersama dengan beberapa orang lain, menyusul hujan deras yang disebabkan oleh angin topan. It is the worst dam related collapse in history. Ini adalah runtuhnya bendungan terkait terburuk dalam sejarah.


Posting by: Septi Awaliah

 

Pertempuran 5 Hari atau Pertempuran 5 Hari di Semarang adalah serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia di Semarang melawan Tentara Jepang. Pertempuran ini adalah perlawanan terhebat rakyat Indonesia terhadap Jepang pada masa transisi (bedakan dengan Peristiwa 10 November - perlawanan terhebat rakyat Indonesia dalam melawan sekutu dan Belanda).
Pertempuran dimulai pada tanggal 15 Oktober 1945 (walau kenyataannya suasana sudah mulai memanas sebelumnya) dan berakhir tanggal 20 Oktober 1945. 2 hal utama yang menyebabkan pertempuran ini terjadi karena larinya tentara Jepang dan tewasnya dr. Kariadi


Masuknya Tentara Jepang ke Indonesia

Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian, tepatnya, 8 Maret, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Sejak itu, Indonesia diduduki oleh Jepang

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan tokoh-tokohnya

Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada 6 dan 9 Agustus 1945. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia kemudian memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.

Kaburnya tawanan Jepang

Hal pertama yang menyulut kemarahan para pemuda Indonesia adalah ketika pemuda Indonesia memindahkan tawanan Jepang dari Cepiring ke Bulu, dan di tengah jalan mereka kabur dan bergabung dengan pasukan Kidobutai dibawah pimpinan Jendral Nakamura. Kidobutai terkenal sebagai pasukan yang paling berani, dan untuk maksud mencari perlindungan mereka bergabung bersama pasukan Kidobutai di Jatingaleh.

Tewasnya Dr. Kariadi

Setelah kaburnya tawanan Jepang, pada Minggu, 14 Oktober 1945, pukul 6.30 WIB, pemuda-pemuda rumah sakit mendapat instruksi untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat di depan RS Purusara. Mereka menyita sedan milik Kempetai dan merampas senjata mereka. Sore harinya, para pemuda ikut aktif mencari tentara Jepang dan kemudian menjebloskannya ke Penjara Bulu. Sekitar pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti delapan anggota polisi istimewa yang waktu itu sedang menjaga sumber air minum bagi warga Kota Semarang Reservoir Siranda di Candilama. Kedelapan anggota Polisi Istimewa itu disiksa dan dibawa ke markas Kidobutai di Jatingaleh. Sore itu tersiar kabar tentara Jepang menebarkan racun ke dalam reservoir itu. Rakyat pun menjadi gelisah. Cadangan air di Candi, desa Wungkal, (Sekarang menjadi kawasan industri Candi Semarang) waktu itu adalah satu-satunya sumber mata air di kota Semarang. Sebagai kepala RS Purusara (sekarang Rumah Sakit Kariadi) Dokter Kariadi berniat memastikan kabar tersebut. Selepas Magrib, ada telepon dari pimpinan Rumah Sakit Purusara, yang memberitahukan agar dr. Kariadi, Kepala Laboratorium Purusara segera memeriksa Reservoir Siranda karena berita Jepang menebarkan racun itu. Dokter Kariadi kemudian dengan cepat memutuskan harus segera pergi ke sana. Suasana sangat berbahaya karena tentara Jepang telah melakukan serangan di beberapa tempat termasuk di jalan menuju ke Reservoir Siranda. Isteri dr. Kariadi, drg. Soenarti mencoba mencegah suaminya pergi mengingat keadaan yang sangat genting itu. Namun dr. Kariadi berpendapat lain, ia harus menyelidiki kebenaran desas-desus itu karena menyangkut nyawa ribuan warga Semarang. Akhirnya drg. Soenarti tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda itu, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran. Bersama tentara pelajar yang menyopiri mobil yang ditumpanginya, dr. Kariadi ditembak secara keji. Ia sempat dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 23.30 WIB. Ketika tiba di kamar bedah, keadaan dr. Kariadi sudah sangat gawat. Nyawa dokter muda itu tidak dapat diselamatkan. Ia gugur dalam usia 40 tahun satu bulan.

Peristiwa Lain

  1. Sebelum tanggal 20 Oktober, ada kejadian Gencatan Senjata antara kedua belah pihak, tetapi kendati demikian kejadian ini tidak memadamkan situasi, kejadian diperparah dengan pembunuhan sandera (lihat no. 2)
  2. Di Pedurungan, orang-orang Semarang, terutama dari Mranggen dan Genuk menjadi satu untuk memindahkan tawanan, yang menjadi sandera. Karena janji Jepang untuk mundur tidak dipenuhi maka 75 sandera itu dibunuh, sehingga perang berlanjut.
  3. Datangnya pemuda dari luar Kota Semarang untuk membantu menjadikan Jepang marah
  4. Radius 10 km dari Tugumuda menjadi medan peperangan

Tokoh-Tokoh yang terlibat

Mengenai pertempuran lima hari di Semarang ini, ada beberapa tokoh yang terlibat adalah sbb :
  1. dr. Kariadi
    dr. Kariadi adalah dokter yang akan mengecek cadangan air minum di daerah Candi yang kabarnya telah diracuni oleh Jepang. Ia juga merupakan Kepala Laboratorium Dinas Pusat Purusara.
  2. Mr. Wongsonegoro
    Gubernur Jawa Tengah yang sempat ditahan oleh Jepang.
  3. Dr. Sukaryo dan Sudanco Mirza Sidharta
    Tokoh Indonesia yang ditangkap oleh Jepang bersama Mr. Wongsonegoro.
  4. Mayor Kido (Pemimpin Kidobutai)
    Pimpinan Batalion Kidobutai yang berpusat di Jatingaleh.
  5. drg. Soenarti
    Istri dr. kariadi
  6. Kasman Singodimejo
    Perwakilan perundingan gencatan senjata dari Indonesia.
  7. Jenderal Nakamura
    Jenderal yang ditangkap oleh TKR di Magelang

Monumen Tugu Muda

Untuk memperingati Pertempuran 5 Hari di Semarang, dibangun Tugu Muda sebagai monumen peringatan. Tugu Muda ini dibangun pada tanggal 10 November 1950. Diresmikan oleh presiden Ir. Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953. Bangunan ini terletak di kawasan yang banyak merekam peristiwa penting selama lima hari pertempuran di Semarang, yaitu di pertemuan antara Jl. Pemuda, Jl. Imam Bonjol, Jl. Dr. Sutomo, dan Jl. Pandanaran dengan lawang sewu. Selain pembangunan Tugu Muda, Nama dr. Kariadi diabadikan sebagai nama salah satu rumah sakit di Semarang.

Posting By : Berry Anafia

 
Perang Puputan Margarana Merupakan salah satu Pertempuran Rakyat Indonesia melawan kolonialisme belanda untuk Mempertahankan Kemerdekaan.Pertempuran ini dipimpin oleh Kepala Divisi Sunda Kecil Kolonel I Gusti Ngurah Rai.Dimana Pasukan TKR di wilayah ini bertempur dengan habis habisan untuk mengusir Pasukan Belanda yang kembali datang setelah kekalahan Jepang, untuk menguasai kembali wilahyahnya yang direbut Jepang pada Perang Dunia ke 2, mengakibatkan kematian seluruh Pasukan I Gusti Ngurah Rai yang kemudian dikengang sebagai Perang Puputan serta mengakibatkan Belanda sukses mendirikan Negara Indonesia Timur.

 PERISTIWA
Pada waktu staf MBO berada di desa Marga, I Gusti Ngurah Rai memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di Kota Tabanan. Perintah itu dilaksanakan pada 20 November 1946 (malam hari) dan berhasil baik. Beberapa pucuk senjata beserta pelurunya dapat direbut dan seorang komandan polisi NICA ikut menggabungkan diri kepada pasukan Ngurah Rai. Setelah itu pasukan segera kembali ke Desa Marga. Pada 20 November 1946 sejak pagi-pagi buta tentara Belanda mulai nengadakan pengurungan terhadap Desa Marga. Kurang lebih pukul 10.00 pagi mulailah terjadi tembak-menembak antara pasukan Nica dengan pasukan Ngurah Rai. Pada pertempuran yang seru itu pasukan bagian depan Belanda banyak yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua tentaranya yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari Makassar. Di dalam pertempuran yang sengit itu semua anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik darah penghabisan. Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan "Puputan" atau perang habis-habisan di desa margarana sehingga pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur, termasuk Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang tewas. Untuk mengenang peristiwa tersebut pada tanggal 20 november 1946 di kenal dengan perang puputan margarana, dan kini pada bekas arena pertempuran itu didirikan Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa.

 Posting By : Risky Apriansyah

 







Peristiwa Bandung Lautan Api adalah peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk Bandung[1] membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.


Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan penduduk, kecuali TKR dan polisi, diserahkan kepada mereka. Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari. Malam tanggal 24 November 1945, TKR dan badan-badan perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas. Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan bersenjata.
Ultimatum Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, sebutan bagi TNI pada saat itu) meninggalkan kota Bandung mendorong TRI untuk melakukan operasi "bumihangus". Para pejuang pihak Republik Indonesia tidak rela bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Keputusan untuk membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan Priangan (MP3) di hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 24 Maret 1946[2]. Kolonel Abdoel Haris Nasoetion selaku Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung.[rujukan?] Hari itu juga, rombongan besar penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu pembakaran kota berlangsung.
Bandung sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Di mana-mana asap hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik mati. Tentara Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhammad Toha dan Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia) terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Gudang besar itu meledak dan terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan mereka, maka pada pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota, sehingga Bandung pun menjadi lautan api.
Pembumihangusan Bandung tersebut dianggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Setelah peristiwa tersebut, TRI bersama milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari luar Bandung. Peristiwa ini mengilhami lagu Halo, Halo Bandung yang nama penciptanya masih menjadi bahan perdebatan.
Beberapa tahun kemudian, lagu "Halo, Halo Bandung" secara resmi ditulis, menjadi kenangan akan emosi yang para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia alami saat itu, menunggu untuk kembali ke kota tercinta mereka yang telah menjadi lautan api.

Posting by : Nurul Hidayat

Rabu, 28 Agustus 2013

Sejarah Peristiwa Tsunami di Aceh


Sejarah Peristiwa Tsunami di Aceh- Tsunami adalah sebuah peristiwa alam yang berupa perpindahan sejumlah volume air laut sebagai akibat dari peristiwa gempa bumi yang terjadi di dasar laut, gunung berapi di dasar laut yang meletus, atau bisa juga disebabkan oleh jatuhnya meteor di dalam laut. Kecepatan laju tsunami sendiri bisa mencapai 500 - 100 kilometer / jam atau setara dengan kecepatan pesawat terbang. Sejarah mencatat beberapa peristiwa tsunami terbesar sepanjang sejarah dan ternyata Tsunami yang terjadi di Aceh merupakan tsunami yang paling mematikan dalam sepanjang sejarah.
26 Desember 2004

Gempa bumi tektonik berkekuatan 8,5 SR berpusat di Samudra India (2,9 LU dan 95,6 BT di kedalaman 20 km (di laut berjarak sekitar 149 km selatan kota Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam). Gempa itu disertai gelombang pasang (Tsunami) yang menyapu beberapa wilayah lepas pantai di Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara), Sri Langka, India, Bangladesh, Malaysia, Maladewa dan Thailand.

Bencana tsunami yang terjadi pada tahun 2004 lalu tersebut telah menewaskan lebih dari 230.000 jiwa belum termasuk jumlah korban yang hilang. Semua peristiwa tersebut berawal dari peristiwa gempa bumi bawah laut yang terjadi di Samudra Hindia pada 26 Desember 2004 dimana pusat gempa terdapat di lepas pantai barat Sumatra. Masyarakat Sumatra sendiri menamakan gempa tersebut sebagai Gempa Bumi Sumatra - Andaman. Para ahli Meteorologi dan Geofisika dari BMKG menyatakan bahwa gempa dasyat tersebut disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik.

 

Tsunami terbesar sepanjang sejarah ini tidak hanya mengakibatkan rusaknya berbagai infrastruktur di kawasan Sumatera saja. Namun di beberapa negara seperti Thailand, Sri Lanka serta Afrika juga mendapatkan dampak yang sama parahnya. Pada saat itu, Indonesia, Maladewa, dan Sri Lanka memberlakukan keadaan darurat karena peristiwa terbesar sepanjang sejarah ini dianggap sebagai bencana nasional. Masyarakat dari berbagai belahan dunia juga tidak tinggal diam, berbagai bantuan dari masyarakat internasional terus mengalir. Bahkan tidak sedikit negara yang tidak hanya memberikan bantuan dalam bentuk materi namun juga mengirimkan tenaga sukarelanya untuk turun berperan dalam proses rekonstruksi.

Walaupun tsunami di Aceh yang merupakan tsunami terbesar sepanjang sejarah telah beralalu, namun proses rekonstruksi masih terus berjalan hingga saat ini. Tidak sedikit pemberitaan tentang 'disunatnya' bantuan - bantuan dari luar negeri, namun paling tidak masyarakat Aceh - Sumatera telah bisa menata kehidupan mereka kembali. Gempa berkekuatan 9,1 SR (menurut United States Geological Survey, walaupun dibantah oleh Institut Teknologi California yang menyatakan bahwa kekuatan gempa saat itu mencapai 9,2 SR) yang diikuti oleh peristiwa tsunami besar memang telah meluluhlantakkan sebagian besar wilayah Aceh, jadi tidaklah mengherankan bila peristiwa tersebut tercatat sebagai peristiwa tsunami terbesar sepanjang sejarah. 

Itulah kisah suram 9 tahun silam yang terjadi di penghujung tahun 2004 silam. Namun, seiring waktu berjalan, segala perbaikan terus berjalan.




posting by: Desi Oktavia

Minggu, 25 Agustus 2013

LATAR BELAKANG KEMERDEKAAN INDONESIA

Pada tanggal 6 Agustus 1945 sebuah bom atom dijatuhkan di atas kota Hiroshima Jepang oleh Amerika Serikat yang mulai menurunkan moral semangat tentara Jepang di seluruh dunia. Sehari kemudian Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI, atau “Dokuritsu Junbi Cosakai”, berganti nama menjadi PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau disebut juga Dokuritsu Junbi Inkai dalam bahasa Jepang, untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945, bom atom kedua dijatuhkan di atas Nagasaki sehingga menyebabkan Jepang menyerah kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Momen ini pun dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.
 
Soekarno, Hatta selaku pimpinan PPKI dan Radjiman Wedyodiningrat sebagai mantan ketua BPUPKI diterbangkan ke Dalat, 250 km di sebelah timur laut Saigon, Vietnam untuk bertemu Marsekal Terauchi. Mereka dikabarkan bahwa pasukan Jepang sedang di ambang kekalahan dan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia. Sementara itu di Indonesia, pada tanggal 10 Agustus 1945, Sutan Syahrir telah mendengar berita lewat radio bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. Para pejuang bawah tanah bersiap-siap memproklamasikan kemerdekaan RI, dan menolak bentuk kemerdekaan yang diberikan sebagai hadiah Jepang.

Pada tanggal 12 Agustus 1945, Jepang melalui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, mengatakan kepada Soekarno, Hatta dan Radjiman bahwa pemerintah Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada Indonesia dan proklamasi kemerdekaan dapat dilaksanakan dalam beberapa hari, tergantung cara kerja PPKI. Meskipun demikian Jepang menginginkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 24 Agustus.
Dua hari kemudian, saat Soekarno, Hatta dan Radjiman kembali ke tanah air dari Dalat, Sutan Syahrir mendesak agar Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan karena menganggap hasil pertemuan di Dalat sebagai tipu muslihat Jepang, karena Jepang setiap saat sudah harus menyerah kepada Sekutu dan demi menghindari perpecahan dalam kubu nasionalis, antara yang anti dan pro Jepang. Hatta menceritakan kepada Syahrir tentang hasil pertemuan di Dalat. Soekarno belum yakin bahwa Jepang memang telah menyerah, dan proklamasi kemerdekaan RI saat itu dapat menimbulkan pertumpahan darah yang besar, dan dapat berakibat sangat fatal jika para pejuang Indonesia belum siap. Soekarno mengingatkan Hatta bahwa Syahrir tidak berhak memproklamasikan kemerdekaan karena itu adalah hak Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sementara itu Syahrir menganggap PPKI adalah badan buatan Jepang dan proklamasi kemerdekaan oleh PPKI hanya merupakan 'hadiah' dari Jepang.
 
Pada tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Tentara dan Angkatan Laut Jepang masih berkuasa di Indonesia karena Jepang telah berjanji akan mengembalikan kekuasaan di Indonesia ke tangan Sekutu. Sutan Sjahrir, Wikana, Darwis, dan Chaerul Saleh mendengar kabar ini melalui radio BBC. Setelah mendengar desas-desus Jepang bakal bertekuk lutut, golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun golongan tua tidak ingin terburu-buru. Mereka tidak menginginkan terjadinya pertumpahan darah pada saat proklamasi. Konsultasi pun dilakukan dalam bentuk rapat PPKI. Golongan muda tidak menyetujui rapat itu, mengingat PPKI adalah sebuah badan yang dibentuk oleh Jepang. Mereka menginginkan kemerdekaan atas usaha bangsa kita sendiri, bukan pemberian Jepang.
Soekarno dan Hatta mendatangi penguasa militer Jepang (Gunsei) untuk memperoleh konfirmasi di kantornya di Koningsplein (Medan Merdeka). Tapi kantor tersebut kosong.
 
 
 


Soekarno dan Hatta bersama Soebardjo kemudian ke kantor Bukanfu, Laksamana Muda Maeda, di Jalan Medan Merdeka Utara (Rumah Maeda di Jl Imam Bonjol 1). Maeda menyambut kedatangan mereka dengan ucapan selamat atas keberhasilan mereka di Dalat. Sambil menjawab ia belum menerima konfirmasi serta masih menunggu instruksi dari Tokyo. Sepulang dari Maeda, Soekarno dan Hatta segera mempersiapkan pertemuan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada pukul 10 pagi 16 Agustus keesokan harinya di kantor Jalan Pejambon No 2 guna membicarakan segala sesuatu yang berhubungan dengan persiapan Proklamasi Kemerdekaan.
Sehari kemudian, gejolak tekanan yang menghendaki pengambilalihan kekuasaan oleh Indonesia makin memuncak dilancarkan para pemuda dari beberapa golongan. Rapat PPKI pada 16 Agustus pukul 10 pagi tidak dilaksanakan karena Soekarno dan Hatta tidak muncul. Peserta rapat tidak tahu telah terjadi peristiwa Rengasdengklok.
Pada waktu itu Soekarno dan Moh. Hatta, tokoh-tokoh menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI, sementara golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang. Selain itu, hal tersebut dilakukan agar Soekarno dan Moh. Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Para golongan pemuda khawatir apabila kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hasil dari perjuangan bangsa Indonesia, menjadi seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang.
Sebelumnya golongan pemuda telah mengadakan suatu perundingan di salah satu lembaga bakteriologi di Pegangsaan Timur Jakarta, pada tanggal 15 Agustus. Dalam pertemuan ini diputuskan agar pelaksanaan kemerdekaan dilepaskan segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang. Hasil keputusan disampaikan kepada Ir. Soekarno pada malam harinya tetapi ditolak Soekarno karena merasa bertanggung jawab sebagai ketua PPKI.
Peristiwa Rengasdengklok adalah peristiwa dimulai dari "penculikan" yang dilakukan oleh sejumlah pemuda, antara lain : Soekarni, Wikana dan Chaerul Saleh dari perkumpulan "Menteng 31" terhadap Soekarno dan Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00. WIB, Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia,sampai dengan terjadinya kesepakatan antara golongan tua yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Achmad Subardjo dengan golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan.
Menghadapi desakan tersebut, Soekarno dan Hatta tetap tidak berubah pendirian. Sementara itu di Jakarta, Chairul dan kawan-kawan telah menyusun rencana untuk merebut kekuasaan. Tetapi apa yang telah direncanakan tidak berhasil dijalankan karena tidak semua anggota PETA mendukung rencana tersebut.
Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia rencananya akan dibacakan Bung Karno dan Bung Hatta pada hari Jumat, 17 Agustus 1945 di lapangan IKADA(yang sekarang telah menjadi lapangan Monas) atau di rumah Bung Karno di Jl.Pegangsaan Timur 56. Dipilih rumah Bung Karno karena di lapangan IKADA sudah tersebar bahwa ada sebuah acara yang akan diselenggarakan, sehingga tentara-tentara jepang sudah berjaga-jaga, untuk menghindari kericuhan, antara penonton-penonton saat terjadi pembacaan teks proklamasi, dipilihlah rumah Soekarno di jalan Pegangsaan Timur No.56. Bendera Merah Putih sudah dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Rabu tanggal 16 Agustus 1945, sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia.
 

Karena tidak mendapat berita dari Jakarta, maka Jusuf Kunto dikirim untuk berunding dengan pemuda-pemuda yang ada di Jakarta. Namun sesampainya di Jakarta, Kunto hanya menemui Wikana dan Mr. Achmad Soebardjo, kemudian Kunto dan Achmad Soebardjo ke Rangasdengklok untuk menjemput Soekarno, Hatta, Fatmawati dan Guntur. Achmad Soebardjo mengundang Bung Karno dan Hatta berangkat ke Jakarta untuk membacakan proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur 56. Pada tanggal 16 tengah malam rombongan tersebut sampai di Jakarta.
Keesokan harinya, tepatnya tanggal 17 Agustus1945 pernyataan proklamasi dikumandangkan dengan teks proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang diketik oleh Sayuti Melik menggunakan mesin ketik yang "dipinjam" (tepatnya sebetulnya diambil) dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor (Laut) Dr. Hermann Kandeler.